Defisiensi Vitamin B12 Ancam Pria 50+ dan Sering Salah Dianggap Penuaan

Facebook
Twitter
WhatsApp

TBDC – Kekurangan vitamin B12 menjadi salah satu masalah kesehatan yang kerap tidak disadari pria berusia di atas 50 tahun, meski gejalanya dapat mempengaruhi stamina, fungsi saraf, hingga kesehatan jantung. Banyak gejala awal seperti kelelahan, kesemutan, perubahan suasana hati, serta menurunnya energi sering kali dianggap sebagai bagian dari proses penuaan alami.

Menurut laporan Only My Health, seorang ahli gizi menyebutkan bahwa defisiensi vitamin B12 umum terjadi pada kelompok usia lanjut karena kemampuan tubuh menyerap nutrisi semakin menurun. Pooja, ahli gizi dari Rumah Sakit Fortis Bengaluru, India, menjelaskan bahwa produksi asam lambung berkurang seiring bertambahnya usia, sehingga tubuh kesulitan melepaskan vitamin B12 yang terkandung dalam makanan.

“Lambung memproduksi lebih sedikit asam seiring bertambahnya usia, sehingga sulit mendapatkan vitamin B12 dari sumber makanan,” ujar Pooja. Ia menambahkan, ketidakmampuan mendeteksi kondisi ini sejak dini dapat memicu gangguan neurologis, termasuk masalah ingatan dan stamina fisik yang menurun.

Vitamin B12 berperan penting dalam menjaga kesehatan saraf, pembentukan sel darah merah, dan proses sintesis DNA. Ketika kadarnya rendah, tubuh kehilangan kemampuan optimal untuk mengangkut oksigen, yang dapat menyebabkan kelelahan, sesak napas, hingga penurunan fungsi kognitif.

Pada pria berusia 50 tahun ke atas, gejala defisiensi B12 dapat muncul sebagai rasa kebas atau kesemutan di tangan dan kaki, gangguan konsentrasi, perubahan suasana hati, kulit pucat, berkurangnya nafsu makan, hingga penurunan berat badan. Jika tidak ditangani, kelemahan otot dan gaya berjalan tidak stabil dapat berkembang secara bertahap.

Pooja menjelaskan bahwa kekurangan vitamin B12 juga dapat dipicu penggunaan jangka panjang obat antasida atau obat diabetes seperti metformin yang menghambat penyerapan nutrisi. Kondisi lain yang turut memengaruhi yaitu asupan makanan hewani yang rendah, gastritis, atau gangguan usus.

Ia menekankan pentingnya pemeriksaan kadar vitamin sebelum melakukan diagnosis mandiri. Untuk meningkatkan kadar vitamin B12, masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan kaya nutrisi seperti daging tanpa lemak, ikan salmon atau tuna, telur, yoghurt, serta sereal. Konsumsi makanan probiotik juga dinilai dapat membantu fungsi pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Jika diperlukan, suplemen atau suntikan vitamin B12 dapat menjadi pilihan, namun tetap harus melalui konsultasi dokter. “Pria dengan penyerapan yang buruk atau masalah pencernaan sering kali membutuhkan suntikan. Jangan pernah mengonsumsi suplemen tanpa konsultasi,” tegas Pooja.

| Berita Terbaru