Indonesia Siap Fasilitasi Dialog Pascaserangan AS-Israel ke Iran

Facebook
Twitter
WhatsApp

TBDC – Serangan Amerika Serikat bersama Israel ke Iran menimbulkan kekhawatiran serius bagi stabilitas kawasan Timur Tengah dan menjadi ujian bagi kredibilitas Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP). Pernyataan ini disampaikan pakar hubungan internasional Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, kepada media, Minggu.

Menurut Ahmad, serangan tersebut menegaskan kontradiksi antara retorika stabilitas dan praktik militer di lapangan. “Serangan terhadap Iran ini mempertajam kontradiksi antara retorika stabilitas dan praktik militer, sekaligus menguji kredibilitas narasi perdamaian melalui BoP,” ujarnya.

Ahmad menilai insiden ini juga menjadi momentum bagi negara-negara Islam yang relatif independen, termasuk Turki dan Indonesia, untuk mengevaluasi kembali kerja sama mereka dengan BoP. Semua kekuatan dunia, kata dia, harus mendorong upaya deeskalasi agar konflik tidak meluas.

“Upaya AS-Israel yang tampak seperti menetralkan Iran sejatinya bukan hanya soal satu negara, tetapi bagian dari proyek rekayasa ulang keseimbangan kekuatan di Timur Tengah,” kata Ahmad. Ia menambahkan, jika dunia menormalisasi situasi ini dan membiarkan serangan berlanjut, potensi ekspansi militer ke kawasan lain, termasuk Greenland, Kanada, Eropa, dan Amerika Latin, tidak bisa diabaikan.

Serangan Israel terhadap Iran terjadi pada 28 Februari 2026, diikuti operasi militer besar-besaran AS, menurut Presiden Donald Trump. Salah satu insiden menimbulkan tujuh roket menghantam wilayah Teheran, termasuk dekat kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Balasan Iran tidak kalah cepat, dengan peluncuran roket menuju Israel serta sejumlah target di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.

Merespons eskalasi ini, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyampaikan kesiapan Presiden RI Prabowo Subianto untuk melakukan perjalanan ke Iran. Tujuannya adalah memfasilitasi dialog diplomatik yang dapat memulihkan kondisi keamanan dan menciptakan situasi yang kondusif di kawasan.

Pengamat menekankan pentingnya diplomasi aktif dan koordinasi internasional agar konflik tidak meluas, sekaligus menegaskan peran Indonesia dalam mendorong penyelesaian damai. “Ini bukan hanya persoalan regional, tetapi ujian global bagi mekanisme perdamaian internasional,” tambah Ahmad.

| Berita Terbaru