TBDC – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan wafat pada Sabtu (28/2) dini hari di kantornya saat menjalankan tugas, menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran. Stasiun televisi pemerintah Iran mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional dan tujuh hari libur, menampilkan foto Khamenei dengan latar ayat suci Al-Qur’an dan pita hitam di layar.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran menyebut Khamenei wafat sebagai “martir” dan menuding AS serta Israel sebagai pihak bertanggung jawab. Dalam pernyataan resmi, SNSC menegaskan wafatnya Khamenei sebagai awal dari “kebangkitan dalam perjuangan melawan para penindas.”
Serangan itu menewaskan beberapa anggota keluarga Khamenei, termasuk putri, menantu, dan cucunya, serta sejumlah pejabat tinggi militer, di antaranya Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Pakpour dan sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani. Sebelumnya, Israel mengklaim telah menargetkan tujuh pejabat keamanan senior Iran.
Citra satelit memperlihatkan kerusakan parah di kediaman Khamenei dan sejumlah fasilitas militer di Teheran, dengan bangunan menghitam, puing berserakan, dan kepulan asap membubung tinggi. Ledakan terdengar di beberapa kota besar, termasuk Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah, menimbulkan kepanikan warga yang bergegas mencari perlindungan.
Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai “operasi tempur besar-besaran” dan menilai kematian Khamenei sebagai langkah untuk menegakkan keadilan serta membuka peluang bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negara mereka. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan serangan bertujuan menyingkirkan rezim yang dianggap teroris.
Kementerian Luar Negeri Iran mengakui serangan terjadi saat perundingan nuklir tidak langsung dengan AS tengah berlangsung di Jenewa, Swiss. Putaran keenam negosiasi yang dijadwalkan sebelumnya dibatalkan karena insiden militer.
Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan kesedihan atas eskalasi militer dan menyerukan semua pihak menahan diri serta mengedepankan diplomasi. Presiden Prabowo Subianto siap memfasilitasi mediasi demi terciptanya kondisi keamanan yang kondusif, sementara WNI diimbau tetap tenang, waspada, dan mengikuti arahan otoritas setempat.