TBDC – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (28/2) sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran. Pernyataan ini disampaikan Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari kepada penyiar Al-Mayadeen, menegaskan bahwa langkah tersebut dilakukan “menyusul agresi terhadap Iran.”
Insiden ini terjadi setelah serangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh AS dan Israel, yang menargetkan sejumlah lokasi di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan signifikan serta korban sipil. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan sasaran infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
“Israel salah perhitungan dengan menyerang Iran,” kata perwakilan IRGC, menekankan kesiapan Iran dalam menghadapi agresi eksternal. Penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia, dipandang sebagai langkah signifikan yang berpotensi mempengaruhi distribusi energi global.
Dalam perkembangan terkait, Kantor Berita ISNA mengutip pernyataan Kementerian Pendidikan Iran yang menyebut bahwa sekolah-sekolah di sejumlah wilayah ditutup sementara atau beralih ke sistem pembelajaran daring. Langkah ini diambil untuk menjaga keselamatan pelajar dan staf sekolah di tengah eskalasi militer di negara tersebut.
Situasi di Timur Tengah terus memanas, dengan ketegangan antara Iran, AS, dan Israel yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Para analis internasional memperingatkan potensi gangguan pasokan minyak global dan risiko konflik yang lebih luas jika konfrontasi tidak segera diredakan. Penutupan Selat Hormuz menandai salah satu titik kritis dalam krisis ini, mengingat jalur tersebut menjadi jalur vital bagi pengiriman minyak dari Teluk Persia ke seluruh dunia.
Langkah-langkah militer dan respons diplomatik selanjutnya akan menjadi kunci dalam menentukan arah konflik. Sementara itu, komunitas internasional menyerukan de-eskalasi dan penyelesaian melalui jalur diplomasi untuk menghindari krisis kemanusiaan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.