Wamenko Pangan RI Kunjungi KSPEAN Tanah Bumbu, Dukung Sapi-Sawit Terpadu

Facebook
Twitter
WhatsApp

TBDC – Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq meninjau Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Selasa (16/6/2026). Kunjungan ini menyoroti pengembangan program integrasi peternakan sapi dengan perkebunan kelapa sawit yang dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan nasional.

Peninjauan tersebut difokuskan pada Program Pemberdayaan Peternakan Sapi Berkelanjutan Terintegrasi Perkebunan Kelapa Sawit, Kehutanan, dan Pertanian (P2SHP) yang dijalankan oleh PT Buana Karya Bhakti. Program ini menjadi salah satu model pengelolaan lahan terpadu yang menggabungkan sektor peternakan dan perkebunan dalam satu ekosistem produksi.

Dalam kesempatan itu, Bupati Tanah Bumbu yang diwakili Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Eryanto Rais menyampaikan bahwa daerahnya memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan beragam. Menurutnya, potensi tersebut perlu dikelola secara terpadu agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

“Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu berkomitmen penuh mendukung kebijakan pemerintah pusat dalam mewujudkan kawasan swasembada pangan, energi, dan air. Kami siap berkolaborasi dalam langkah strategis yang akan dirumuskan,” ujarnya.

Sementara itu, Wamenko Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa integrasi antara perkebunan sawit dan peternakan sapi memiliki potensi besar dalam memperkuat ketahanan pangan hewani. Ia mencontohkan keberhasilan pengembangan di PT Buana Karya Bhakti yang menunjukkan pertumbuhan signifikan.

“Dari sekitar 300 ekor sapi pada 2016, kini berkembang menjadi hampir 1.500 ekor melalui sistem pembiakan alami. Ini membuktikan model integrasi ini berjalan efektif,” katanya.

Ia juga menyebut, sistem integrasi tersebut tidak hanya meningkatkan produksi ternak, tetapi juga memberikan dampak positif bagi sektor perkebunan, seperti pengurangan biaya pembersihan gulma hingga 50–70 persen serta peningkatan kesuburan tanah melalui pupuk organik dari limbah ternak.

Ranch Manager PT Buana Karya Bhakti, Wahyu Darsono, menjelaskan bahwa program ini dimulai dengan investasi sekitar Rp6 miliar pada 2016 untuk pengadaan 300 ekor sapi beserta infrastruktur pendukung.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan, Suparmi, menyampaikan bahwa program integrasi sawit-sapi di perusahaan tersebut telah ditetapkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian sebagai role model nasional pengembangan peternakan terintegrasi di Indonesia.

| Berita Terbaru