TBDC – Nilai tukar rupiah pada Senin (30/3/2026) pagi tercatat melemah tipis 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.981 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.980 per dolar AS. Pelemahan ini muncul di tengah sentimen global yang memengaruhi mata uang domestik.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa harga minyak mentah dunia yang terus naik menjadi salah satu faktor utama pelemahan rupiah. “Rupiah diperkirakan akan terus melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang memburuk dan harga minyak mentah dunia yang masih naik,” ujarnya di Jakarta.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) saat ini mencapai 103 dolar AS per barel. Lonjakan ini dipicu gangguan di Selat Hormuz sejak awal Maret 2026, jalur utama pengiriman sekitar 20 juta barel minyak per hari. Gangguan tersebut menekan pasokan global sehingga mendorong harga minyak dunia naik.
Selain faktor energi, sentimen terhadap rupiah juga dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Investor memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di 75 basis poin dan peluang kenaikan masih terbuka tahun ini, dibandingkan potensi pemangkasan suku bunga. Hal ini menguatkan dolar AS di pasar global.
“Indeks dolar AS terus naik. Menjelang level psikologis Rp17 ribu, diperkirakan Bank Indonesia akan melakukan intervensi,” kata Lukman. Menurutnya, harga minyak yang tinggi dapat mendorong inflasi domestik, sehingga bank sentral kemungkinan akan merespons dengan penyesuaian kebijakan moneter.
Berdasarkan kondisi ini, analis memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.950–Rp17.050 per dolar AS dalam beberapa hari ke depan. Pasar menunggu langkah strategis BI untuk menstabilkan rupiah, termasuk kemungkinan intervensi di pasar spot maupun operasi moneter lainnya.
Dengan tekanan global dari kenaikan harga minyak dan sentimen The Fed, nilai tukar rupiah diproyeksikan tetap fluktuatif, namun otoritas moneter siap mengambil langkah agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.