TBDC – Iran mengisyaratkan kemungkinan menunjuk Pakistan dan Turki sebagai mediator untuk menyalurkan komunikasi dengan Amerika Serikat, menandai potensi langkah diplomasi meski Teheran tetap menolak bernegosiasi langsung dengan pemerintahan Presiden Donald Trump. Pakistan telah menyampaikan proposal AS kepada pihak Iran, sementara Turki berperan menyampaikan pesan antara kedua negara.
Langkah ini menjadi indikasi bahwa Iran bersedia mengeksplorasi jalur diplomasi melalui pihak ketiga, meskipun ketegangan di kawasan tetap tinggi.
Menanggapi dinamika ini, Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Sukamta, menekankan pentingnya Indonesia mengambil sikap yang tepat dan terukur sesuai prinsip politik luar negeri. “Yang paling utama bukan sekadar siapa yang menjadi mediator, tetapi bagaimana menghentikan potensi eskalasi konflik, melindungi warga sipil, serta membuka jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan,” kata Sukamta, Kamis (26/3).
Ia menambahkan, sebagai bagian dari komunitas global, Indonesia diharapkan terus memainkan peran aktif mendorong perdamaian dunia melalui diplomasi yang sejuk, konstruktif, dan berorientasi pada solusi.
Sebelumnya, Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyatakan kesediaannya untuk menjadi mediator konflik antara AS-Israel dan Iran, bahkan siap melakukan perjalanan langsung ke Teheran jika kedua pihak menyetujui. Tujuannya adalah memulihkan kondisi keamanan yang kondusif dan membuka ruang dialog.
Hingga kini, belum ada keputusan tegas dari kedua kubu yang berkonflik terkait tawaran mediasi. Namun pernyataan Iran yang mempertimbangkan Pakistan dan Turki sebagai penghubung menunjukkan adanya peluang diplomasi tidak langsung untuk meredam ketegangan.
Dengan situasi yang masih dinamis, perhatian internasional kini tertuju pada bagaimana mediator potensial baik Pakistan, Turki, maupun opsi Indonesia—dapat memainkan peran konstruktif. Sementara itu, komunitas global terus memantau langkah-langkah Iran dan AS, dengan harapan jalur diplomasi tetap terbuka untuk mengurangi risiko eskalasi lebih luas.
Langkah-langkah mediasi ini dinilai krusial dalam menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah dan menciptakan peluang perdamaian yang berkelanjutan, di tengah ketegangan yang berlangsung antara Iran, AS, dan sekutunya.